Kondisi masyarakat Mekkah dan Madinah sebelum Nabi Muhammad saw diutus menjadi Nabi ditandai dengan sebutan masyarakat jahiliyah.
Disebut dengan masyarakat jahiliyah adalah kondisi berilmu dan beragama yang menyimpang dan menyesatkan. Dimana ketika itu kebanyakan masyarakat Mekkah dan Madinah mulai meninggalkan agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, yaitu agama tauhid yang kemudian diteruskan oleh anaknya Nabi Ismail as. Meskipun tidak semuanya, tetapi hampir rata-rata masyarakat ketika itu sudah semakin jauh dari nilai-nilai ketauhidan dan akhlak. Sedangkan dari segi ilmu, terus berkembang tetapi berseberangan dengan agama Tauhid. Dengan kata lain, ilmu hanya berguna untuk hal-hal duniawi saja. Seperti Matematika, Bahasa, Sastra, SAINS dan sebagainya.
Tegasnya, jahiliyah disini dimaksudkan bodoh dalam hal agama dan akhlak.
Sebelum melangkah lebih jauh, sebenarnya kondisi masyarakat Mekkah dan Madinah ketika itu ada hal yang positif dan negatifnya. Positifnya roda kehidupan berjalan seperti biasanya. Dari segi ekonomi, di Makkah ditandai dengan perdagangan. Di Madinah ditandai dengan bertani dan berternak. Dari segi ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan. Tetapi jauh dari nilai-nilai agama Tauhid.
Bila disederhanakan bahwa kondisi masyarakat Mekkah dan Madinah dapat dilihat dari 4 aspek kehidupan.
1. Aspek Keyakinan/kepercayaan
2. Aspek Sosial
3. Aspek Ekonomi
4. Aspek Politik
1. Aspek keyakinan/kepercayaan, ditandai dengan penyembahan berhala, seperti patung-patung, benda-benda angkasa, benda-benda yang diyakini membawa manfaat, api, pohon-pohon dan sebagainya. Sehingga bermunculan tradisi dan ajaran baru dan secara perlahan meninggalkan ajaran Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ismail as. Meskipun begitu, masih ada juga diantara mereka yang tetap istiqomah pada agama Tauhid. Tetapi jumlahnya tidak lebih banyak daripada yang menyimpang dan tersesat.
2. Aspek Sosial, ditandai dengan tingkah laku yang jauh dari kemanusiaan. Perzinahan merajalela, pembunuhan hal yang biasa, perjudian, meminum-minuman keras, perbudakan, dan lain sebagainya.
3. Aspek Ekonomi, ditandai dengan maraknya riba. Mengambil keuntungan yang berlebih. Sehingga yang kaya semakin kaya. dan begitupula sebaliknya. Monopoli perdagangan, curang dan lain sebagainya.
4. Aspek Politik, ditandai dengan kekuasaan yang tidak mendatangkan keadilan. Sehingga siapa yang kuat maka berkuasa. Dengan kata lain memakai hukum rimba. Maka bentrokan antar suku tidak dapat terelakkan dan malah sering terjadi.
Kondisi ini terus berlangsung hingga masanya tiba akan hadir seorang nabi dari kalangan masyarakat Mekkah yang bernama Muhammad yang sudah disebutkan pada kitab-kitab Allah sebelumnya (Taurat, Zabur dan Injil) dengan ditandai peristiwa besar ketika itu pasukan raja Abrahah dari Syam hendak menghancurkan Ka`bah dengan alasan perdagangan. Peristiwa ini digambarkan jelas dalam surah Al-Fiil.
Demikianlah gambaran kondisi masyarakat Mekkah dan Madinah sebelum Nabi Muhammad saw diutus menjadi nabi. Wallaahu a`lam.
Disebut dengan masyarakat jahiliyah adalah kondisi berilmu dan beragama yang menyimpang dan menyesatkan. Dimana ketika itu kebanyakan masyarakat Mekkah dan Madinah mulai meninggalkan agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, yaitu agama tauhid yang kemudian diteruskan oleh anaknya Nabi Ismail as. Meskipun tidak semuanya, tetapi hampir rata-rata masyarakat ketika itu sudah semakin jauh dari nilai-nilai ketauhidan dan akhlak. Sedangkan dari segi ilmu, terus berkembang tetapi berseberangan dengan agama Tauhid. Dengan kata lain, ilmu hanya berguna untuk hal-hal duniawi saja. Seperti Matematika, Bahasa, Sastra, SAINS dan sebagainya.Tegasnya, jahiliyah disini dimaksudkan bodoh dalam hal agama dan akhlak.
Sebelum melangkah lebih jauh, sebenarnya kondisi masyarakat Mekkah dan Madinah ketika itu ada hal yang positif dan negatifnya. Positifnya roda kehidupan berjalan seperti biasanya. Dari segi ekonomi, di Makkah ditandai dengan perdagangan. Di Madinah ditandai dengan bertani dan berternak. Dari segi ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan. Tetapi jauh dari nilai-nilai agama Tauhid.
Bila disederhanakan bahwa kondisi masyarakat Mekkah dan Madinah dapat dilihat dari 4 aspek kehidupan.
1. Aspek Keyakinan/kepercayaan
2. Aspek Sosial
3. Aspek Ekonomi
4. Aspek Politik
1. Aspek keyakinan/kepercayaan, ditandai dengan penyembahan berhala, seperti patung-patung, benda-benda angkasa, benda-benda yang diyakini membawa manfaat, api, pohon-pohon dan sebagainya. Sehingga bermunculan tradisi dan ajaran baru dan secara perlahan meninggalkan ajaran Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ismail as. Meskipun begitu, masih ada juga diantara mereka yang tetap istiqomah pada agama Tauhid. Tetapi jumlahnya tidak lebih banyak daripada yang menyimpang dan tersesat.
2. Aspek Sosial, ditandai dengan tingkah laku yang jauh dari kemanusiaan. Perzinahan merajalela, pembunuhan hal yang biasa, perjudian, meminum-minuman keras, perbudakan, dan lain sebagainya.
3. Aspek Ekonomi, ditandai dengan maraknya riba. Mengambil keuntungan yang berlebih. Sehingga yang kaya semakin kaya. dan begitupula sebaliknya. Monopoli perdagangan, curang dan lain sebagainya.
4. Aspek Politik, ditandai dengan kekuasaan yang tidak mendatangkan keadilan. Sehingga siapa yang kuat maka berkuasa. Dengan kata lain memakai hukum rimba. Maka bentrokan antar suku tidak dapat terelakkan dan malah sering terjadi.
Kondisi ini terus berlangsung hingga masanya tiba akan hadir seorang nabi dari kalangan masyarakat Mekkah yang bernama Muhammad yang sudah disebutkan pada kitab-kitab Allah sebelumnya (Taurat, Zabur dan Injil) dengan ditandai peristiwa besar ketika itu pasukan raja Abrahah dari Syam hendak menghancurkan Ka`bah dengan alasan perdagangan. Peristiwa ini digambarkan jelas dalam surah Al-Fiil.
Demikianlah gambaran kondisi masyarakat Mekkah dan Madinah sebelum Nabi Muhammad saw diutus menjadi nabi. Wallaahu a`lam.
Comments
Post a Comment