Siapa yang paling bertanggung jawab atas kesesatan Ummat

Setelah mengetahui gambaran bagaimana kondisi masyarakat Makkah dan Madinah sebelum Islam pada artikel sebelumnya bahwa masyarakat ketika itu dapat dilihat setidaknya 4 aspek kehidupan, yaitu Aspek kepercayaan, sosial, ekonomi dan politik. Yang mana keempat aspek ini positif telah lari dari hukum Tuhan (Agama para Nabi/Tauhid). Meskipun secara peradaban manusia ketika itu berbanding terbalik antara Ilmu Pengetahuan dan Agama.

  1. Aspek kepercayaan ditandai dengan penyembahan berhala.
  2. Aspek sosial ditandai dengan amoral
  3. Aspek ekonomi ditandai dengan suburnya RIBA
  4. Aspek politik ditandai dengan perselisihan/peperangan antar suku
Sehingga berlakulah hukum "rimba" yang artinya siapa yang kuat, dialah yang berkuasa tanpa memandang sosial dan keadilan masyarakat ketika itu yang kemudian disebutlah dengan zaman jahiliyah.

Lalu, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas semua itu ?

Menurut analisis penulis bahwa merujuk kepada Al-Quran yang merupakan kitab kebenaran yang mana kebenarannya absolut. Dan ini hanya diyakini oleh orang yang percaya saja. Bahwa Al-Quran banyak sekali menyinggung kepada 2 (dua) tokoh, yaitu Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat/Pembesar.

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu. (Al-Maaidah: 68)

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". (Al-Maaidah: 77)

1. Tokoh agama. 
Dari mereka sebenarnya diharapkan keberlangsungan agama yang telah dibawa oleh para Rasul Allah. Tetapi mereka cenderung menutupi kebenaran dan mencampurkan antara yang benar dan yang salah, demi kepentingan duniawi mereka. Sehingga yang terjadi manipulasi kebenaran agama dengan memberikan dogma dan dokrinisasi. Akibatnya, ummat tidak bisa kritis dan hanya mengekor saja.

2. Tokoh masyarakat/pembesar. 
Peran mereka tidak kalah penting dari tokoh agama. Bahkan ada "kerjasama" diantara mereka dalam persekongkolan memanipulasi kebenaran agama. Sehingga lagi-lagi masyarakat (ummat) di "tokoh"-i dan akhirnya kebenaran semakin tertutup dan hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki kepentingan.

"AGAMA BUKAN MILIK TOKOH AGAMA & MASYARAKAT SEHINGGA MUNCUL DOGMA dan DOKTRINISASI."


Akibat dari ulah mereka inilah maka agama Allah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul Allah itu menjadi ternoda, samar-sama bahkan tidak ada lagi kemiripannya dengan keasilianya bahkan bisa disebut menjadi agama baru. Akhirnya pengaruh agama yang "baru" ini mewarnai aspek kehidupan lainnya, seperti sosial, budaya, politik dan ekonomi.

Di akhir tulisan penulis ingin katakan bahwa mari mengambil pelajaran dari zaman Jahiliyah itu dimana perlu adanya "pengawasan" terhadap tokoh agama dan tokoh masyarakat oleh orang-orang yang diantara keduanya. Dan itu perlu "keberanian" yang cerdas untuk melakukannya dengan membangun kesadaran diri dan masyarakat bahwa AGAMA BUKAN MILIK TOKOH AGAMA & MASYARAKAT SEHINGGA MUNCUL DOGMA dan DOKTRINISASI. Tetapi Agama itu milik manusia tanpa memandang strata sosial sebagaimana diterapkan oleh pemeluk agama tertentu.

Pengajian dan ceramah agama hari-hari ini perlu "direformasi" bahkan "direvolusi" yang selama ini kecenderungan "ilmu agama" itu hanya boleh dikuasai oleh pemuka agama saja. Diskusi dan debat hari-hari ini perlu dilestarikan dengan adu argumen dan bukan adu sentimen.

Akhirnya, tidak ada istilah berhenti belajar. Bila berhenti belajar maka berhentilah kehidupan. Wallahu a`lam.

Comments